Thursday, April 17, 2008

Lintang (bintang~Kawakib): bulan purnama di atas Dermaga Olivir

Ingin tahu siapa Lintang?, itu tuh salah satu anggota Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Ada apa dengan Lintang? seorang pemuda yang Jenius luar biasa sehingga bisa menghitung 18 kali 14 kali 23 tambah 11 tambah 14 kali 16 kali 7! hanya dengan sedikit modifikasi cipataannya diluar trek yang diajarkan di sekolah-sekolah.

Dengan sedikit memberi nasehat "Hafalkan luar kepala semua perkalian sesama angka ganjil, itulah yang sering menyusahkan. Hilangkan angka satuan dari perkalian dua angka puluhan karena lebih mudah mengalikan dengan angka berujung nol, kerjakan sisanya kemudian, dan jangan kekenyangan kalau makan malam, itu akan membuat telingamu tuli dan otakmu tumpul!"

Meskipun rumahnya paling jauh tapi kalau datang ia paling pagi. Wajah manisnya
senantiasa bersinar walaupun baju, celana, dan sandal cunghai-nya buruknya minta ampun. Namun sungguh kuasa Allah, di dalam tempurung kepalanya yang ditumbuhi
rambut gimbal awut-awutan itu tersimpan cairan otak yang encer sekali. Pada setiap
rangkaian kata yang ditulisnya secara acak-acakan tersirat kecemerlangan pemikiran yang gilang gemilang. Di balik tubuhnya yang tak terawat, kotor, miskin, serta berbau hangus, dia memiliki an absolutely beautiful mind. Ia adalah buah akal yang jernih, bibit genius asli, yang lahir di sebuah tempat nun jauh di pinggir laut, dari sebuah keluarga yang tak satu pun bisa membaca.

Lintang memiliki hampir semua dimensi kecerdasan. Dia seperti toko serba ada kepandaian. Yang paling menonjol adalah kecerdasan spasialnya, sehingga ia sangat unggul dalam geometri multidimensional. Ia dengan cepat dapat membayangkan wajah sebuah konstruksi suatu fungsi jika digerak-gerakkan dalam variabel derajat. Ia mampu memecahkan kasus-kasus dekomposisi modern yang runyam dan mengajari kami teknik menghitung luas poligon dengan cara membongkar sisi-
sisinya sesuai Dalil Geometri Euclidian. Ingin kukatakan bahwa ini sama sekali bukan
perkara mudah.

ORANG cerdas memahami konsekuensi setiap jawaban dan menemukan bahwa
di balik sebuah jawaban tersembunyi beberapa pertanyaan baru. Pertanyaan baru tersebut memiliki pasangan sejumlah jawaban yang kembali akan membawa pertanyaan baru dalam deretan eksponensial. Sehingga mereka yang benar-benar cerdas kebanyakan rendah hati, sebab mereka gamang pada akibat dari sebuah jawaban. Konsekuensi-konsekuensi itu mereka temui dalam jalur-jalur seperti labirin, jalur yang jauh menjalar-jalar, jalur yang tak dikenal di lokus-lokus antah berantah, tiada berujung. Mereka mengarungi jalur pemikiran ini, tersesat di jauh di dalamnya, sendirian.

Godaan-godaan besar bersemayam di dalam kepala orang-orang cerdas. Di
dalamnya gaduh karena penuh dengan skeptisisme. Selesai menyerahkan tugas kepada
dosen, mereka selalu merasa tidak puas, selalu merasa bisa berbuat lebih baik dari apa yang telah mereka presentasikan. Bahkan ketika mendapat nilai A plus tertinggi, mereka masih saja mengutuki dirinya sepanjang malam.

Orang cerdas berdiri di dalam gelap, sehingga mereka bisa melihat sesuatu yang
tak bisa dilihat orang lian. Mereka yang tak dipahami oleh lingkungannya, terperangkap dalam kegelapan itu. Semakin cerdas, semakin terkucil, semakin aneh mereka. Kita menyebut mereka: orang-orang yang sulit. Orang-orang sulit ini tak berteman, dan mereka berteriak putus asa memohon pengertyian. Ditambah sedikit saja dengan sikap introver, maka orang-orang cerdas semacam ini tak jarang berakhir di sebuah kamar dengan perabot berwarna teduh dan musik klasik yang terdengar lamat-lamat, itulah ruang terapi kejiwaan. Sebagian dari mereka amat menderita.

Sebaliknya, orang-orang yang tidak cerdas hidupnya lebih bahagia. Jiwanya sehat
walafiat. Isi kepalanya damai, tenteram, sekaligus sepi, karena tak ada apa-apa di situ, kosong. Jika ada suara memasuki telinga mereka, maka suara itu akan terpantul-pantul sendirian di dalam sebuah ruangan yang sempit, berdengung-dengung sebentar, lalu segera keluar kembali melalui mulut mereka.

Belajar kata terlebih dulu, bukan belajar bahasa, itulah inti paradigma belajar bahsa Inggris versi Lintang. Sebuah ide cemerlang yang hanya terpikirkan oleh orang-orang yang memahami prinsip-prinsip belajar behasa. Dengan paradigma ini aku mengalami kemajuan pesat, bukan hanya karena aku dapat mempelajari bahsa Inggris
dengan bantuan analogi bahasa Indonesia, tapi petuahnya mampu melenyapkan sugesti kesulitan belajar bahasa asing yang umum melanda siswa-siswa daerah. Bahwa bahasa,
baik lokal maupun asing, adalah permainan kata-kata, tak lebih dari itu!

"Yang paling membautku terpesona," cerita Bu Mus. "Adalah
kemampuannya menemukan jawaban dengan cara lain, cara yang tak pernah terpikirkan"

Cuplikan kisah Laskar Pelangi..

Saya berandai-andai jikalau ada pemuda Indonesia yang dapat menyerupai Lintang! maka, saya akan suka rela untuk mengajaknya berdiskusi tentang segala hal yang telah membuat kita semua terlena dengan kenikmatan dunia ini.. karena aku adalah orang yang terdidik untuk menjadi seorang guru Matematika yang berandai-andai memiliki murid seperti Lintang..

Ya Allah, semoga hidayahmu menunjukkan kepadaku jalan yang engkau hendaki.. Amin..


No comments: